BUDI HUSADA HARM REDUCTION (OUT REACH CENTER).

BUDI HUSADA HARM REDUCTION (OUT REACH CENTER).

Sepulang dari studi community based care and prevention HIV/AIDS di Chiang may, Dr. budi mengajukan proposal sebagai tindak lanjut dari hasil studi. Dalam proposal itu salah satu rekomendasi penting adalah dibentuknya pelayanan harm reduction bagi korban narkoba. Karena program ini sangat berbau social, tidak menjanjikan keuntungan materi, bahkan beresiko karena model pengelolaan korban narkoba masih menggunakan metoda represif, maka tidak mudah diterima secara formal. Dari dasar itulah maka dilakukan pelayanan dengan metoda private yaitu dengan menggunakan waktu praktek dokter sore. Sejak tanggal 1 Desember 2002 telah dilakukan pelayanan gratis pada semua yang berhubungan dengan narkoba. Pelayanan meliputi layanan telpon, layanan konseling langsung dan layanan VCT mandiri. VCT mandiri maksudnya adalah klien bisa melakukan test hiv dengan cara membayar sendiri tetapi dibantu dengan 3 metode yaitu bila mereka setelah konseling berani datang ke laborat sendiri, maka diberi surat rujukan. Bila agak takut atau malu, maka disertai ke laborat. Bila sama sekali malu dan tertutup, maka darah diambil di klinik dan darah dibawa ke laborat oleh dokter atau relawan.

walikota Semarang mendukung kegiatan bahkan menugaskan Istrinya untuk ikut membina program ini

 

Pelayanan ini rupanmya menarik FHI yang memang konsern dalam bidang pencegahan hiv pada pengguna narkoba. Dari dasar itulah, maka sejak juni 2004, telah dibiayai pelayanan yang lebih profesional dengan struktur yang baik. Kegiatan tidak hanya dengan pasif out reach tetapi dengan aktif out reach dimana 6 orang mantan drug user dengan aktif mendata temannya, memberi pendidikan dan skill untuk menghidari hiv/aids. Tentu saja sebelum melakukan itu, mereka telah dilatih dengan ILOM maupun dengan diskusi – diskusi rutin pemecahan masalah keadaan.

 

Out reach dilakukan di semua tempat beresiko keberadaan mereka. Dari daerah resiko rrendah seperti sekolah hingga resiko meninggi seperti kelompok sekolah rawan, tongkrongan – tongkrongan, kumpulnya mereka bahkan di LAPAS dll.

Penyuluhan pada sekolah, kampus dll selain merupkan penguatan mereka agar tidak masuk narkoba, juga menyaring kemungkinan daitara mereka da yang kena sehingga agar bisa konselinglebih lanjut.

Penyluhan di lapas selain untuk mengurai link mereka, juga memberi ketrampilan hidup dan skill agar tidak terular hiv baik selama di lapas maupun di luar.

Bagi orang yang terlibat narkoba, maka dengan penyuluhan, konseling dan pembinaan pribadi diharapkan mereka agar mengurangi resiko infeksi hingga sembuh sama sekalil. Bagi yang belum  bisa berhenti, maka dokter, pengelola akan memberi tetrapi khusus mulai dengan psiko terapi, tetapi medis, alternatif. Untuk mencegah penularan hiv, mereka dibekali ketrampilan penggunaan kondom, penyuntikan yang benar dan sterilisasi jarum.

Ketampilan diberikan pada mereka agar dengan waktu, mereka bisa mencari uang dari kewirausahaan bukan perdagangan obat.

Saat ini bukan saja kota Semarang, FHI memberi tugas tambahan untuk kabupaten Semarang. Sampai bulan juli 2006 sudah lebih dari 540 pecandu yang berhasil dibina.

VCT telah dilakukan pada mereka untuk mengetahui status hivnya. Pengetahuan status hiv sangat menunjang perubahan perilaku menuju sehat.

Semua pelayanan ini diberikan dengan gratis karena telah dibiayai oleh FHI.